Book Review : Laut Bercerita by Leila S Chudori

Kadang kita membaca sejarah, seolah itu hanya cerita masa lalu. Padahal, bagi sebagian orang, hal tersebut belum pernah benar-benar selesai. Saya membaca buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori bukan dalam sekali duduk. Bukan karena tidak menarik, justru karena terlalu dalam. Ada bagian-bagian yang membuat saya harus berhenti, diam sebentar, dan bertanya ke diri sendiri.

“Kalau saya ada di posisi itu… saya akan kuat nggak?”

Cerita ini membawa kita ke sosok Biru Laut, seorang anak muda yang sebenarnya sederhana, punya keluarga, punya mimpi, punya kehidupan yang bisa saja berjalan “normal”. Tapi ia memilih jalan yang berbeda. Ia memilih untuk peduli. Dan di titik itu, saya mulai sadar, bahwa keberanian tidak selalu terlihat seperti yang kita bayangkan.

Ia tidak selalu lantang. Tidak selalu heroik. Kadang, keberanian itu justru sunyi. Seperti tetap bersuara, meski tahu risikonya adalah kehilangan segalanya. Dan buku ini tidak pernah mencoba membuat itu terlihat indah. Tidak ada glorifikasi. Tidak ada romantisasi. Yang ada justru realita, bahwa setiap pilihan punya harga. Dan untuk sebagian orang, harganya terlalu mahal. Tapi yang membuat buku ini benar-benar tinggal, bukan hanya tentang mereka yang “pergi”. Melainkan tentang mereka yang ditinggalkan.

Saya membayangkan, bagaimana rasanya menunggu seseorang yang tidak pernah jelas kabarnya. Bukan kehilangan yang selesai dengan tangis, tapi kehilangan yang terus hidup setiap hari. Bangun dengan harapan. Tidur dengan ketidakpastian. Dan besoknya, mengulang lagi hal yang sama. Di situ saya merasa, bahwa luka paling dalam bukan selalu tentang perpisahan. Tapi tentang tidak adanya jawaban.

Buku ini seperti membuka sisi lain dari sejarah yang sering kita baca terlalu cepat. Kita sering menghafal tahun, kejadian, dan tokoh. Tapi lupa, bahwa di balik itu ada manusia. Ada keluarga. Ada rindu. Ada kehidupan yang terhenti di satu titik. Dan mungkin, yang paling menampar adalah ini, bahwa semua itu bisa terjadi, bukan hanya karena kekuasaan, tapi juga karena banyak orang memilih untuk diam.

Di akhir, saya tidak merasa selesai membaca Laut Bercerita. Justru rasanya seperti membawa sesuatu pulang. Sebuah kesadaran, bahwa ada cerita yang tidak boleh hilang, ada luka yang tidak boleh dianggap biasa, dan ada suara yang mungkin sudah tidak terdengar, tapi tetap perlu kita jaga maknanya. Karena mungkin, cara paling sederhana untuk menghargai mereka, adalah dengan tidak melupakan.

Saya sangat merekomendasikan untuk kalian untuk menyelami buku ini agar lebih memahami bahwa ada luka yang belum sembuh, keadilan yang tak kunjung menemukan muaranya dan dosa masa lalu yang belum selesai di negara ini.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *